Rabu, 16 Maret 2022

Kerangka Novel "Melawan Jebakan Si Pelik"

 

Tugas Menyusun Kerangka Novel

Nama :Eka Pradipa Sudrajat

No Absen:06

Kelas:XII-MIPA-10


Kerangka Novel

"Melawan Jebakan Si Pelik"

 

 

Tema

        Novel yang daya buat bertema “Sosial”. Novel ini menceritakan tentang kepala keluarga pas-pasan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya keluarganya. Dibalik itu,ada cobaan yang selalu mengujinya,hingga pada akhirnya ia bertemu seseorang yang menyelamatkannya 

 

Judul

Novel ini akan saya beri judul

“Melawan Jebakan Si Pelik”

 

Tokoh & Perwatakan

a.       Tokoh Protagonis

·         Maryo

Memiliki sifat yang gigih meskipun beberapa kali mengakami keputus asaan ia selalu mencoba mencari jalan,bertanggung jawab terhadap keluarganya.

b.      Tokoh Antagonis

·         Pak Andi

Memiliki sifat yang licik dan bermuka dua,

c.       Tokoh Tritagonis

·         Istri &anak Maryo

Memiliki sifat tabah akan kesulitan yang dialami keluarganya.

·         Wardi

Memiliki sifat Baik,ikhlas,dan bijaksana.

 

Alur

        Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur Maju,hal ini dapat dilihat dari ceirta yang terus berjalan dengan adanya konflik yang bermunculan.

Latar/Setting:

a.       Latar Tempat

·         Kota Bandung

·         Kantor Pak Andi

·         Rumah Maryo

·         Kampung halaman Maryo

·         Di Jalan

·         Rumah Wardi

b.      Latar Waktu

·         Di Sore Hari

·         Beberapa Minggu kemudian

·         Esok

c.       Latar Suasana

·         Keputus-asaan

·         Kesedihan

·         Rasa Lega

·         Kesenangan

 

Amanat

1.      Jangan mudah percaya dengan orang lain

2.      Jangan mudah berputus asa

3.      Selalu berpikir keras sebelum memutuskan hal yang dirasa berat

4.      Dibalik kesusahan ada jalan dan kemudahan

 

Ringkasan Novel

Melawan Jebakan Si Pelik

 

            Bekerja di jalanan bukanlah hal yang mudah,berpeluh kesah dan bertaruh nyawa di tengah hiruk pikuknya kota demi sesuap nasi dan kebutuhan sehari-hari. Aku ini hanyalah seorang pengemudi ojek online yang tidak menentu upah setiap bulannya. Kadang mendapat bonus,kadang hanya cukup untuk makan sehari-hari dengan lauk sederhana. Meski begitu aku tetap terus berusaha untuk menghidupi keluarga kecilku untuk bertahan hidup ditengah kota ini.

            Maryo,begitu orang lain memanngilku. Aku merupakan seorang perantau dari desa untuk bekerja ditengah hiruk pikuk Kota Bandung yang hampir menyaingi hiruk pikuk ibukota. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku,aku melakukan semua pekerjaan yang bisa kulakukan,atau bisa disebut sebagai serabutan. Salah satunya adalah menjadi pengemudi ojek online.

            Sore itu seperti biasa,aku mendapat orderan dari seorang pelanggan. Ia berpakaian seperti orang kantoran pada umumnya.

“Jadi Ojol sudah lama pak?” Tanya pelangganku.

“Sudah sekitar 1 tahun bang”,jawabku.

            Selama perjalanan kami terus berbicara satu sama lain dan saling berbagi cerita pengalaman merantau kebetulan ia juga merupakan seorang perantau dari luar pulau jawa. Pelangganku ini merupakan seorang penyedia jasa keuangan.

            Tak terasa akhirnya,kami sampai ditempat tujuan. “Ini kartu pengenal saya pak,siapa tau sewaktu-waktu  bapak membutuhkan dana yang mendesak”,ucap pelangganku sambil memberi upah perjalanan dan kartu pengenalnya. Oh iyah terimakasih bang”,jawabku sambill menerimanya. Setelah itu seperti biasa aku harus pulang kerumah karena waktu sudah menjelang maghrib.

        Sesampainya dirumah aku disambut oleh keluarga kecilku dan mengajakku makan malam bersama. Setelah makan aku duduk manis diteras sambil menikmati udara malam.    

“Pak..”panggill istriku sambil menunjukkan raut mengganjal.

“Iya bu? Ada apa?”,jawabku.

“Mmm jadi gini,Dimas anak kita belum membayar uang spp selama tiga bulan,dan ibu mendapat surat teguran dari sekolah,bagaimana ini pak?”,lanjutnya.

“Aduh,bagaimana ya bu? bapak juga belum ada uang bu,bulan-bulan ini rasanya pesanan sedang sepi”,jawabku sambil mencari jalan keluar untuk membayar spp anakku.

“Gimana kalau uang yang ada di tabungan kita pakai dulu bu?”,tanyaku memberi solusi.

“Tapi kan itu untuk simpanan kalau-kalau ada kepentingan mendadak yang mendesak pak?”

“Tapi hal ini juga mendesak bu,apalagi sudah diberi teguran oleh pihak sekolah,nanti bapak akan cari uang tambahan agar bisa menutupi uang tabungan yang terpakai itu”

“Ya sudah kalau begitu”,istriku menerima dengan berat hati.

 

        Minggu-minggu selanjutnya aku hadapi dengan penuh semangat,aku mencari tambahan uang kesana-kemari untuk menutupi dana yang terpakai itu. Mulai dari menjadi kurir hingga antar jemput pelanggan borongan. Namun itu saja belum cukup untuk mengganti uang tabungan itu.

        Ditengah mati-matian mencari uang tambahan. Aku mendapat kabar buruk yang sangat membuat hatiku terpukul. Adikku di desa mengabarkan bahwa ibuku meninggal dunia.

“Halo kak” Sapa adikku.

“Halo Iya dek ada apa?”

“Maaf ganggu waktunya kak,kakak bisa pulang kesini tidak kak?”

“Sekarang? Emangnya ada apa dek?”

“I..ibu meninggal dunia tadi pagi kak”

Aku yang mendengar berita itu lantas terdiam seperti tidak percaya akan kabar duka itu.

        Kemudian setelah mengakhiri percakapan dengan adikku,aku langsung bergegas pulang kerumah untuk mengabari anak dan istriku dirumah. Kami bergegas mmembereskan pakaian kami. Namun ada satu hal yang mengganjal,yaitu biaya. Kami tidak mempunyai cukup biaya untuk pergi pulang kampung ke desa kami. Bahkan uang yang baru aku kumpulkan hanya mampu untuk membayar seperempatnya saja.Aku semakin bingung dan gundah dengan masalah ini,haruskah aku tidak hadir dalam persemayaman terakhir ibuku?

        Hingga kemudian aku teringat pada pelangganku di sore itu,ia bernama Andi. Aku buru-buru mencari kartu namanya yang kusimpan di dompetku,dan menghubungunya. Setelah itu aku diperintahkan untuk datang ke kantornya. Aku menyampaikan bahwa aku membutuhkan uang pinjaman saat itu.

        Kemudian pak Andi meminjamkan uang yang diminta,Namun dengan jaminan barang yang ditahan sebagai jaminan. Tanpa pikir panjang aku lantas menggadaikan motorku dan langsung berangkat ke desa menggunakan kendaraan umum bersama keluargaku.

        Singkat cerita,kurang lebih selama seminggu lebih aku berkunjung di desa,kemudian akhirnya kami kembali lagi ke Bandung. Keesekoan harinya aku bergegas kembali untuk mengambil motorku di kantor pak Andi. Namun setelah sampai kantor,menurut pak Andi motor milikku belum bisa diambil kembali hingga aku membayar hutangku seperempat dan bunganya.

        Aku merasa terkejut mendengar hal itu,tetapi kemudian aku langsung segera mencari pekerjaan serabutan seperti menjadi kuli panggul dipasar. Meski tidak seberapa upahnya,tetapi lumayan untuk menebus motorku yang ditahan.

        Hari demi hari kukumpulkan uang tebusan agar dapat menebus motorku. Hingga tiba akhirnya uangku cukup sesuai yang pak Andi minta. Namun ,saat aku datangi kantor Pak Andi,menurutnya uang yang ku kumpulkan belum cukup karena bunga pinjaman terus bertambah.

        Aku yang kesal dan putus asa dengan permintaan pak Andi,akhirnya pulang dengan menyesali pinjaman dana itu. Entah dengan cara apalagi ku harus memperbaiki situasi ini,uang tabunganku habis,motor untuk mencari nafkah disita,dan kini harus membayar uang pinjaman beserta bunganya.

        Pada saat dalam keterpurukan itu aku bertemu dengan sahabat lamaku Wardi ia merupakan lulusan sarjana keuangan,aku menceritakan bahwa aku sedang membutuhkan sejumlah uang. Tetapi saat itu aku tidak menceritakan masalahku dengan pak Andi dan untuk apa uang itu digunakan.

        Beberapa minggu kemudian aku datang ke kantor pak Andi,Namun hal buruk kembali menimpaku,kantor pak Andi terlihat tutup dan sudah ditinggalkan. Semua barang-barang yang ada dibwanya,taka da yang tersisa termasuk motorku.

        Kembali merasa putus asa,kemudian aku kembali kepada Wardi untuk mengembalikan uang yang kupinjam darinya,uang itu belum kupakai sepeser pun. Wardi yang merasa heran lantas bertanya tentang masalahku. Ia mendengarkan ceritaku dari awal hingga akhir.

        Kebetulan saat itu,ia menjabat sebagai salah satu pegawai OJK(Otoritas Jasa Keuangan) dan sedang memburu lembaga-lembaga pinjaman illegal. Ia sangat antusias dalam membantuku hingga pada akhirnya aku dapat mendapatkan kembali motor untuk kerjaku sehari-hari. Ini membuatku sedikit lega dan senang mempunyai sahabat sepertinya.

        Novel ini saya rancang berdasarkan inspirasi dari peristiwa yang marak terjadi saat ini. Saya harap,semoga novel ini dapat menginspirasi orang lain agar lebih berhati-hati

 

Bagian Awal

Bab I

Pengenalan Tokoh Maryo sebagai Tulang punggung keluarga kecilnya.

Bab II

Pertemuan Maryo dengan Pak Andi

Bagian Tengah

Bab III

Mengambil Keputusan: Maryo sementara menggunakan uang tabungannya untuk membayar uang sekolah anaknya.

Bab IV

Menutup Lubang:Maryo mengumpulkan kembali uang tabungan yang ditabungnnya untuk kebutuhan sewaktu-waktu

Bab V

Masalah Baru: Ibunda Maryo meninggal ditengah krisis Ekonomi yang menimpa Maryo

Bab VI

Mencari pinjaman: Maryo mecari pinjaman untuk ongkos ia pulang ke kampung

Bab VII

Kembali ke kampung

Bab VIII

Menebus kembali motor yang Maryo jadikan jaminan

Bab IX

Mencari pinjaman kembali

Bab X

Memburu Lembaga Ilegal

Bagian Akhir

Bab XI

Terkuaknya akar bisnis ilegal

Bab XII

Belajar dari Pengalaman

 

 

Rabu, 23 Februari 2022

Menyusun Teks Kritik Sastra dan Teks Essai

  

            Assalamualaikum Wr. Wb., blog ini dibuat untuk memenuhi salah satu Tugas Bahasa Indonesia mengenai Teks Kritik Sastra dan Teks Esai. Blog ini dibuat oleh:

Nama: Eka Pradipa Sudrajat

No Absen: 06

Kelas: XII-MIPA-10


Teks Kritik Sastra

Teks Kritik Sastra Novel Burlian Karya Tere Liye


           Tere Liye adalah nama pena dari Darwis, beliau berasal dari pedalaman sumatera yang berprofesi sebagai Akuntan. Menulis baginya hanya sekedar hobi, pengisi waktu luang. Tere Liye merupakan nama pena seorang penulis berbahasa Indonesia. Tere Liye telah menghasilkan belasan novel, Ia bisa di anggap salah satu penulis yang telah banyak menelurkan karya-karya best seller. Saat ini ia telah menghasilkan banyak karya, bahkan beberapa di antaranya telah di angkat ke layar lebar. Darwis lahir pada tanggal 21 Mei 1979 di pedalaman Sumatera Selatan. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara yang berasal dari keluarga petani Namun walaupun berasal dari pedalaman, sastra adalah sastra dimanapun ia berada

        Berbeda dengan penulis lainnya,Tere Liye selalu membubuhkan makna hidup di setiap karyanya. Di setiap sub bab cerita yang ia tulis selalu saja ada makna hidup baru yang memberikan pelajaran bagi pembacanya. Tak hanya itu,makna-makna hidup itu tak terlihat membosankan karena telah dibungkus oleh cerita yang fantastis darinya. Novel yang ia tulis akan membawa pembacanya kepada dunia imajinasi yang luas dan menarik.

         Hal ini bisa terlihat dari salah satu novel yang saya baca yaitu Burlian. Novel Burlian ini merupakan karya Tere Liye di tahun 2009 yang merupakan seri dari “Serial anak-anak mamak”. Novel ini menceritakan tentang petualangan masa kecil seorang anak yang bernama Burlian.

         Burlian adalah seorang anak dari kampung Paduraksa. Anak kedua Mamak dan Bapak, diberi julukan “Anak Istimewa oleh kedua orang tuanya”. Bandel dan kadang susah diatur. Suatu hari dia mengajak kakaknya yang bernama Pukat untuk bolos sekolah dan mencari belalang. Kejadian itu diketahui oleh Mamak sehingga beliau marah. Maka Burlian dan Pukat ihukum mencari kayu bakar naik turun gunug denan hanya berbekal nasi putih tanpa lauk. Hukuman itu membuat kedua anak itu tidak berani lagi membolos.

        Di lain waktu, Burlian membeli dua kartu SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), sejenis judi togel. Karena suatu kejadian orang-orang kampung menanyakan tanggal lahir Burlian sebagai angka togel. Ternyata saat pengumuman angka yang keluar adalah kebalikan dari tanggal lahir burlian dan burlian menang. Kartu itu disembunyikan dibalik pakaian, tetapi sial mamak menemukan kartu itu dan memarahinya. Mamak marah besar dan menyobek kertas SDSB tersebut sampai berkeping-keping. Walau menang empat nomor dengan dua kartu yang hadiahnya sangat banyak, tetapi Mamak tidak sudi mendapat uang haram.

        Suatu ketika Burlian dan Kak Pukat nekad bermain ke sungai larangan bersama Can. Mereka berniat untuk memburu ikan. Tanpa sengaja kaki Burlian terperosok sehingga kesarang buaya. Padahal disana terdapat buaya yang sangat dekat jaraknya dengan Burlian dan siap menerkam. Kak Pukat berteriak minta tolong, untung  Bapak dan Bakwo Dar datang secara tiba-tiba. Dengan senapan angin, Bapak menembak buaya tersebut. Mereka sedikit terkejut karena selama ini mereka tidak tahu Bapak dapat menggunakan senapan angin.

        Burlian bersekolah disebuah sekolah yang tua dan bangunannya sudah rapuh. Disana ada Pak Bin yang telah mengabdi sebagai guru seama 25 tahun. Mengajar anak-anak dengan tulus dan iklas walaupun selama ini Pak Bin tidak pernah diterima menjadi PNS karena terkendala uang. Jika mau jadi PNS, Pak Bin harus menyogok lima juta. Tetapi beliau tidak mau melakukannya.

        Selain bersekolah, Burlian mengaji di tempat Nek Kiba. Bila telah khatam, Mamak berjanji akan membelikannya sepeda. Tetapi sampi hari H tiba, sepeda baru belum dibeli. Burlian membenci Mamak, Burklian menyangka Mamak tidak menepati janji. Padahal uang Mamak dipakai Ayuk Eli mendaftar sekolah di kota dan membantu pengobatan anaknya Wak Lihan yang sedang sakit keras. Tetapi Burlian beklum mengerti.

        Bapak dengan sabar menasehati Burlian, menceritakan tentang masa kecil Burlian dulu. Mamak telah berkorban besar untuknya,melindungi Burlian dari ribuan lebah. Memeluk Burlian erat-erat sehingga tak seekor lebah pun menyerangnya. Mamak lah yang disengat ribuan lebah sampai Mamak sakit berbulan-bulan.

        Ayuk Eli juga menceritakan pengorbanan lain Mamak. Mamak telah menggadaikan cincin pernikahannya untuk membelikan Burlian sepeda, meskipun cincin itu adalah harta yang paling berharga untuknya.

        Mendengar semua cerita itu, Burlian sadar betapa besarnya cinta Mamak. Bahkan apa saja akan dilakukan Mamak demi Burlian, Amelia, Kak Pukat, dan Ayuk Eli, itu masih  sebagian kecil dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada mereka. Bulian menyesal dan merasa malu telah berlaku seperti itu kepada Mamak.

        Kampung sedang gempar karena akan diadakan pemilihan kepala kampung. Mang Dullah sudah habis masa jabatannya. Kandidat yang mencalonkan irihanya Haji Sohar, tetapi kebanyakan warga tidak menyukainya. Bersamaan dengan hari pemilihan, SD tempat Burlian sekolah ambruk, bangnan itu roboh parah. Juni dan Juli( teman Burlian yang kembar) yang saat itu ada di dalam kelas tertimpa runtuhan dan meninggal di tempat. Burlian selamat dari kejadian itu meski harus di rawat inap.

        Kejadian runtuhnya sekolah itu ramai diberitakan di stasiun televisi nasional. Sampai-saampai Pak Menteri mendatangi Burlian sebagai korban selamat, dan menanyai apa saja yang di inginkan Burlian dan akan dituruti. Permintaan Burlian antara lain sekolah dibangun lagi dan Pak Bin diangkat menjadi PNS.

        Keinginannya dapat terealisasikan dengan dilaksanakannya Program ABRI Masuk Desa. Para ABRI membantu membangun sekolah, mesjid kampung, dan belasan kamar mandi umum. Dan Pak Bin sekarang sudah menjadi PNS, hal itu semakin menambah semangat Pak Bin mengajar, apalagi saat itu mendekati ujian kelulusan. Sampai akhirnya semua siswa kelas enam lulus, mereka berjumlah tiga belas orang. Semua mendapat nilai yang baik. Bahkan Pak Bin mendapat penghargaan dari dinas pendidikan. Dan kabar baik , Nakamura(insinyur dari jepang yang sedang membangun jalan lintas Sumatra) menawakan Burlian sekolah SMP, SMA, dan kuliah di Jakarta. Impian Burlian terwujud. Betapa bahagia Bapak dan Mamak. Cerita diakhiri dengan latar waktu dan tempat 10 tahun kemudian di jepang,Burlian akhirnya dapat bertemu dengan Nakamura-san dan anaknya di jepang.

        Tere Liye mencceritakan Burlian menggunakan alur maju,dengan menggambarkan detail setiap peristiwanya. Penggambaran tokoh Burlian dari sudut pandang orang pertama membuat pembacanya berimajinasi seolah-olah mengalami ceritanya. Selain itu,penceritaan dengan menggunakan bahasa yang ringan membuat novel ini mudah dicerna untuk kalangan anak-anak yang beranjak remaja.

        Jika dilihat dari covernya,menurut saya cover buku ini kurang menarik,apalagi jika peruntukannya untuk remaja. Seharusnya cover dibuat lebih menarik dan menggambarkan keseruan petualangan Burlian.Kelebihan dari novel ini,ceritanya yang menarik dan seolah-olah nyata. Selain itu novel ini berisi kisah yang menantang dan menginspirasi bagi pembacanya.  Sedangkan kekurangan dari novel ini,menurut saya novel Burlian ini memiliki ending yang menggantung dimana Burlian bertemu Nakamura-san di Tokyo yang membuat pembaca menjadi penasaran akan adakah cerita selanjutnya.

        Dibalik itu semua,novel ini sangat cocok bagi semua kalangan terutama kalangan remaja,karena bermanfaat dan menginspirasi pembacanya. Novel ini mengajarkan pembacanya untuk terus berusaha meskipun ditengah keterbatasan.



Teks ESSAI

Lelang Privasi Ditengah Trendingnya NFT

        NFT,kata yang terdengar asing namun membuat heboh publik. Non-Fungible Token atau NFT adalah aset digital yang satu-satunya dimiliki oleh pemilik tersebut. Sebagian besar NFT menggunakan teknologi blockchain ethereum untuk merekam transaaksi di dalamnya. NFT mewakili barang berharga atau unik dengan nilai tukar yang tidak bisa diganti.

        Barang yang bisa dijual dengan bentuk NFT bisa berupa karya seni seperti aset game, foto, video, musik dan lain-lainya. Kita juga bisa mengubah aset dokumen menjadi NFT. Mengenai harga jual, tergantung dari faktor subjektif seperti kualitas, kreativitas dan reputasi dari sang seniman.

        Baru-baru ini publik dihebohkan dengan trendingnya ‘Ghozali’ seorang mahasiswa asal Semarang yang mendadak menjadi miliader setelah menjual foto selfienya di NFT yang ia ambil selama 5 tahun ,sejak 2017 silam. Diketahui Ghozali telah meraup keuntungan hingga 13 miliar,dari hasil penjualan foto selfienya. Hal ini tentunya menarik warganet untuk berbondong-bondong mencoba platform opensea tersebut.

        Namun,mirisnya bukan hanya sebuah karya saja yang diperjualbelikan tetapi ada juga yang menjual foto KTP mereka. Tentunya hal ini sudah menyangkut privasi seseorang. Berdasarkan tuturan Dirjen Kependudukan,Zudan Arif, Foto dokumen kependudukan yang berisi data-data pribadi dan sudah tersebar sebagai NFT itu, akan sangat memicu terjadinya fraud/penipuan/kejahatan, dan membuka ruang bagi ‘pemulung data’ untuk memperjualbelikannya di pasar underground

        Bukan tidak mungkin adanya celah dibalik canggihnya teknologi NFT. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tentunya rela mengeluarkan sejumlah uang demi melancarkan aksi mereka. Data KTP yang mereka dapatkan bisa saja menjadi bahan pemerasan ataupun penyalahgunaan seperti memanipulasi data. 

        Selain itu, menjual data pribadi penduduk, baik dalam bentuk NFT atau yang lainnya, merupakan satu tindakan pelanggaran hukum. Tidak tanggung-tanggung pelanggar dapat dikenai ancaman pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak satu miliar rupiah, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 96 dan Pasal 96A Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013.

        Tanpa kita sadari,kemajuan teknologi seperti ini tentunya bisa menjadi momok yang menakutkan bagi kita. Di era 4.0 ini kejahatan semakin sulit untuk terlihat dan kita sadari. Oleh karena itu,marilah kita manfaatkan teknologi ini dengan sebaik-baiknya dan menggunakannya dengan bijak agar privasi kita tetap terjaga.

 

    Demikian Blog ini saya buat,mohon maaf apabila ada kesalahan,kritik dan saran saya harapkan. Wassalamualaikum Wr. Wb.


Minggu, 14 November 2021

Menyusun Teks Editorial : “Munculnya Kasus Baru diawal Pembelajaran Tatap Muka”

 

Assalamualaikum Wr.Wb.

Laman Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia yang menyangkut BAB “Teks Editorial”. Sebelumnya,izinkan saya memperkenalkan diri,

 

 Nama:Eka Pradipa Sudrajat

No Absen:06

Kelas:XII-MIPA-10

 

“Munculnya Kasus Baru diawal Pembelajaran Tatap Muka”


Sumber Gambar:www.okezone.com 

        Penurunan jumlah kasus Covid-19,membawa dampak baik bagi kita semua. Beberapa fasilitas publik sudah mulai dibuka,salah satunya adalah sekolah. Dengan dibukanya sekolah,siswa-siswi dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Namun,apakah dengan kembali dibukanya sekolah akan berdampak baik bagi kasus Covid-19 yang masih ada hingga kini?

        Pembukaan fasilitas-fasilitas umum seperti mall,pasar,tempat ibadah,dan sekolah setelah dilakukannya pembatasan sosial tentu berdampak baik bagi semua sektor. Salah satunya bagi sektor pendidikan. Pembelajaran yang sebelumnya dilakukan secara daring,kini dapat dilakukan secara tatap muka di sekolah dengan protokol kesehatan yang ketat.Dengan kembali dibukanya sekolah, diharapkan kegiatan belajar dan mengajar dapat lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang dilakukan dari rumah.

        Namun,dibalik itu tedapat resiko-resiko tinggi yang mengancam mereka. Beberapa kasus baru bermunculan,seperti kasus yang terjadi di Kota Bandung,Jawa Barat.Dimana 214 siswa dan 15 guru yang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) dinyatakan positif Covid-19.Menurut Ahyani sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung dari 47 sekolah yang dites Covid-19, persentase terkonfirmasi melebihi 5 persen dari siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka dalam suatu sekolah. Dengan begitu, ke-47 sekolah itu berpotensi tidak melanjutkan sementara PTM dan kembali ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal itu sesuai aturan di mana sekolah yang memiliki persentase positif Covid-19 di atas 5 persen maka harus menghentikan PTM.

    Tidak hanya itu,di Kulon Progo,Jogjakarta,terdapat 61 kasus siswa yang positif Covid saat diambil sample secara acak.Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 KulonProgo, Baning Rahayujati belum ada penularan yang menyebabkan klaster di sekolah,dimana kasus ini masih ada hubungannya dengan klaster lain.Kasus yang terjadi di Kulon Progo ini masih dalam penanganan lebih lanjut darimana kasus-kasus Covid tersebut bermunculan agar tidak terjadi munculnya klaster baru."Kami belum menemukan bahwa telah terjadi klaster sekolah. Jadi kami belum menemukan adanya hubungan antara satu kasus dengan kasus yang lainnya di 61 kasus itu," kata Baning kepada awak media.

        Penambahan kasus baru di kalangan siswa-siswi yang belajar di sekolah bukanlah hal yang sepele. Jika tidak ditangani,dikhawatirkan akan terjadi munculnya klaster baru di kalangan anak sekolah. Pemerintah harus sigap dalam menangani hal ini,agar jumlah kasus Covid-19 tidak semakin bertambah

        Butuhnya kesadaran masyarakat,terutama pelajar diluar sekolah juga merupakan faktor utama dalam menangani kasus-kasus ini. Karena,pemerintah dan pihak sekolah hanya dapat memantau saat siswa sedang di lingkungan sekolah. Dan selebihnya merupakan kesadaran masing-masing siswa itu sendiri.

        Pengecekan dan penanganan yang tanggap melalui test acak yang dilakukan oleh pemerintah,merupakan langkah yang sangat tepat.  Penutupan sekolah yang terdampak juga termasuk langkah yang tepat guna menghindari munculnya klaster baru dari sekolah.

        Selanjutnya pemerintah tinggal meningkatkan kembali penanganan agar semakin baik dan cepat. Sehingga dengan penanganan yang matang ini diharapkan masyarakat dapat terlindungi dari Covid-19.

 

Demikian Tugas yang saya buat,mohon maaf apabila ada kesalahan. Saya mengharapkan adanya kritik dan saran dari bapak-ibu serta rekan-rekan sekalian. Terimakasih sudah membaca.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Rabu, 20 Oktober 2021

Rudy Habibie sang Visioner

 NAMA:EKA PRADIPA SUDRAJAT

NO ABSEN:06

KELAS:XII-MIPA-10

Blog ini dibuat dengantujuan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia mengenai Teks Cerita Sejarah.


Rudy Habibie sang Visioner

        Namaku Bacharuddin Jusuf Habibie,orang orang memanggilku dengan panggilan “Rudy”. Aku dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare,sebuah kota kecil di provinsi Sulawesi Selatan. Aku merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara,yang merupakan buah dari pasangan yang bernama Alwi Abdul Jalil Habibie,seorang pria berdarah Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo,seorang wanita berdarah Jawa yang biasa aku panggil “Papi dan Mami”.

        Saat melahirkanku,Mami dibantu oleh Indo Melo,dukun beranak. Indo Melo merupakan salah satu saksi kalau pada saat itu semua mata tertuju pada diriku. Menurut orang-orang,tangisanku adalah tangisan bayi paling kencang saat itu,hingga bertanya-tanya kalau-kalau aku tersakiti sesuatu. Dari cerita ibu,jika aku menangis sangat sulit untuk menenangkannya sampai-sampai ibuku kewalahan. Menurutnya,aku sulit sekali untuk tidur dan hanya tidur selama 4 jam,selebihnya aku akan terus menangis.

“Rudy itu lho,Koene,tak pernah bias tidur!” keluh Mami dalam bahasa Belanda kepada Papi.

“Tapi dia tidak sakit,kan?”Tanya Papi.

Mami hanya menggeleng,kurang yakin dengan jawabannya.

        Beberapa saudaraku yang sering main ke rumah sering berkomentar macam-macam. Salah satu saudaraku juga ada yang berkata,”Anakmu kok tidak tidur-tidur,mungkin sakit. Coba periksa. Sering-sering didoakan barangkali kena sesuatu. Air susumu mungkin kurang bagus,makananmu dijaga. Bayi kalau kurang tidur pertumbuhannya suka terganggu,lho.”

        Mami masih kebingungan sebenarnya apa mauku saat itu. Namun,saat terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan Papi dari ruangan sebelah,tangisku mulai mereda hingga akhirnya berhenti. Sejak saat itu keluargaku mencari cara agar aku berhenti menangis,yaitu dengan membelikanku piringan musik klasik. Selama piringan itu diputar,aku tetap tenang dan berhenti menangis.

        Namun,solusi itu hanya bertahan sekitar dua hingga tahun saja,begitu aku mulai bias berbicara,pertanyaan demi pertanyaan selalu aku ajukan. Dengan sabar,Papi selalu menjawab pertanyaanku dengan sepenuh hati.

        Papiku merupakan seorang Landbouwconsulent Parepare,atau setingkat Kepala Dinas Pertanian di Parepare. Ia jarang pulang karena sibuk mengurus tanah-tanah pertanian milik warga Parepare. Terkadang,ia juga sering mengajakku ke lahan pertanian untuk mengenalkanku dengan dunia pertanian. Namun,karena pekerjaannya itu,ia tidak selalu ada 24 Jam untuk menjawab pertanyaanku. Sebagai gantinya,Papi mengajarkanku membaca agar aku bias mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku melalui buku-buku. Jika aku ada pertanyaan baru,saat Papi pulang aku akan berdiskusi dengannya. Karena ketertarikanku pada bacaan dan buku-buku,pada umur 4 tahun aku sudah lancar membaca. Buku sudah menjadi cinta pertamaku dan membaca adalah hidupku.

       Buku-buku ilmiah seperti ensiklopedia,buku karangan Leonardo Da Vinci,dan cerita fiksi ilmiah karya Jules Verne adalah favoritku. Karena ketertarikanku pada membaca,aku sampai menghabiskan waktu keseharianku di dalam kamar. Kegemaranku ini memiliki efek samping,karena tak terbiasa berbicara dengan orang lain aku menjadi anak yang gagap.

     

        Berbeda 180 derajat dengan adik laki-lakiku Fanny. Ia merupakan anak yang flamboyan dan bandel. Jika ia sudah pergi bermain ia selalu saja lupa waktu untuk pulang hingga kakak-kakaknya ditugaskan mencarinya. Ia sering sekali mengajakku untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-teman disekitar rumah. Terkadang aku malas dan hanya ingin membaca buku dirumah. Tapi ketika ia memaksaku mau tak mau aku harus ikut keluar sambil membawa buku bacaanku.

        Masa kecil yang menyenangan di Parepare berubah pada akhir 1941. Ketika itu,dunia sedang berubah seiring memuncaknya Perang Dunia II. Pemboman Jepang terhadap Pearl Harbour pun berdampak pada negara di Asia Timur termasuk Indonesia. Parepare sebagai kota penting Belanda merupakan salah satu sasaran penting yang harus direbut Jepang.

        Ancaman pengeboman udara oleh Jepang,membuat aku harus berbekal dengan sepotong karet (stief) yang dikalungkan di leher untuk berjaga-jaga jika ada pemboman mendadak. Karet ini digunakan dengan digigit,untuk mencegah tekanan pada telinga saat berada di lubang perlindungan.

        Ironisnya pada saat itulah aku mulai mengenal pesawat terbang. Dalam kepalaku saat itu,pesawat merupakan benda yang kejam karena membawa bom hingga bisa mencelakakan dan memisahkan buku dan mainan di kamarnya.

        Karena makin seringnya pengeboman,Papi memutuskan bahwa keluarga kami mau tak mau harus mengungsi ke sebuah desa ,di Teteaji pada 1942. Aku tidak terlalu paham tentang situasi genting saat itu,aku hanya ingat kalau Mami memberikan karet (stief) yang dikalungkan dileherku dan saudaraku.

        Setelah mengungsi beberapa bulan,keluarga kami akhirnya kembali ke rumah kami di Parepare. Aku senang sekali,karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan buku-buku dan mainan-mainanku,.

        Namun,dua tahun berlalu,pada November 1944,kami sekeluarga harus mengungsi lagi karena pengeboman di lakukan kembali oleh Sekutu-Amerika dengan sasaran yang sama,Pelabuhan Parepare. Kali ini kami mengungsi di desa kecil bernama Lanrae.Di pengungsian ini,seperti biasa Papi mengajakku menyusuri hutan dan mengajakku bermain di mata air.

“Rud ,coba kamu lihat sekeliling kamu,” kata Papi.

        Aku yang sedang bermain air berhenti sejenak dan memandang sekeliling. Aku melihat tanam-tanaman yang tumbuh subur,semuanya tampak segar dan hijau. Beberapa petani mengambil air dari mata air itu dan menggunakannya untuk menyiram tanaman.

“Menurut kamu,kenapa semua tanaman disini bisa tumbuh subur?”

“Karena dekat air,”jawabku polos.

“Benar,karena itu kamu harus jadi mata air.”

“Kalau kamu baik,semua yang di sekelilingmu juga akan baik. Kalau kamu kotor semua,semua yang di sekitarmu akan mati,”kata papi.

 Perlahan aku memahami maksud dari perkataan Papi dan selalu ku ingat.

        Kami mengungsi cukup lama hingga hampir dua tahun,dari1944 hingga 1945 akhir,hingga tiba saatnya kekalahan Jepang.Akibat dari peristiwa tersebut,Papi kehilangan pekerjaannya dan hanya tinggal di rumah. Terkadang Papi merenungi peristiwa itu,karena peristiwa itu juga kakaknya yang merupakan seorang bupati ditembak oleh Jepang karena dianggap menambah beban.

         Hari demi hari peristiwa itu kami tutupi dengan berita-berita gembira. Karier Papi yang semakin membaik dan keluarga kami yang diterima keluarga Papi di Gorontalo,mengembalikan warna kebahagiaan yang hilang.

        Tapi ditengah kebahagiaan itu muncul kembali satu kabar duka. Sore itu,13 September 1950,semua anggota keluarga tengah bersiap-siap menjalankan shalat seperti biasa. Suasana shalat berlangsung dengan khusyuk sampai tiba di sujud terakhir. Namun,ada yang berbeda kali ini. Papi terus sujud dan tidak kunjung bangun. Kami menunggu Papi cukup lama namun Papi tak kunjung bangun. Fanny yang berada disebelahku mengisyaratkan untuk mencolek Papi. Aku yang mulai pening mencoba menggoyangkan kaki Papi. Tapi saat itu kaki Papi sangat dingin,keluarga lain yang panik kemudian mencoba membangunkan Papi dengan kencang,namun tidak ada respon. Sore itu tangisan pecah memenuhi ruangan. Sore itu,13 September 1950,diam-diam kebahagiaan pamit dari rumah kami.

        Kepergian Papi meninggalkan luka yang dalam bagi kami. Kini Mami lah yang menjadi tanggung jawab kami. Sebelum pergi,Papi menitipkan wejangan agar jika terjadi apa-apa sebaiknya kami pindah ke Jawa. Papi juga menitipkan wejangan kepada Mami agar Mami menyekolahkanku setinggi-tingginya.

        Beberapa waktu berlalu akhirnya hanya aku yang dikirim ke Jakarta untuk bersekolah,disana aku bertujuana untuk menamatkan masa-masa SMA ku. Namun,masalah kembali datang karena ternyata sekolah-sekolah Belanda ikut ditutup. Akhirnya Mami memutuskan untuk membawa keluarga berkumpul di Bandung. Disinilah aku menghabiskan masa-masa SMA ku.

        Kemudian setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia ITB di Bandung. Di kampus ini aku bertemu kembali dengan teman lamaku,Liem Kieng Kie yang aku kenal di bangku SMA.Pertemuan kembali dengan Liem Kieng Kie membuat aku semakin dekat dengannya.

Pada Oktober 1954,Aku menyapa Keng Kie yang baru saja turun dari bus.

“Hey Keng Kie,dari mana kamu?”tanyaku.

“Saya baru mengambil visum di kedutaann Jerman Rud,”jawab Keng Kie.

“Untuk apa visum?”

“Saya akan sekolah teknik penerbangan di Jerman!”

Mendengar hal itu,aku langsung berteriak “Ik ga met jou mee! Saya ikut dengan kamu!”

        Keng Kie hanya menggelengkan kepala. Aku kembali bertanya-tanya padanya tentang kuliah di Jerman. Keng Kie bererita bahwa ia mendapat beasiswa ke Jerman dari pemerintah. Namun,pendaftarannya sudah ditutup. Saat itu kekerasan hatiku muncul “Pokoknya kamu tunggu disana! Kita bertemu di Jerman!” kataku sambil meninggalkan Keng Kie.

        Sesampainya dirumah,aku langsung bertanya-tanya kepada anak-anak yang indekos dirumahku mengenai beasiswa tersebut. Aku disarankan untuk mengikuti ujian P-1 untuk beasiswa. Namun,menurut info yang diberikan ujain tersebut biasanya diikuti oleh mahasiswa yang sudah berkuliah minimal dua tahun,sedangkan aku baru berkuliah tiga bulan di ITB.

        Dengan keteguhan hati,aku tetap mencoba ujian tersebut dengan belajar melalui anak-anak indekos di rumahku.

        Hingga waktu ujian pun tiba,aku mengerjakan ujian itu dengan sebaik-baiknya. Di luar dugaan,akhirnya aku lulus ujian beasiwa tersebut dan mendapat kesempatan untuk mendapat beasiswa kuliah di luar negeri.

        Namun,setelah mendapat rekomendasi dari para professor dan mengurus persyaratan ke P&K untuk bisa kuliah di Jerman. Salah satu pegawai P&K mengatakan bahwa aku tidak bisa berangkat ke Jerman dikarenakan telat mendaftar dan sebagai gantinya aku ditawarkan untuk mendapat beasiswa kuliah ke Australia.

        Karena kegigihanku yang sangat ingin berkuliah di Jerman,aku mengotot untuk ingin berkuliah di Jerman. Kemudian pihak P&K menyarankan jika aku masih bisa berangkat ke Jerman tetapi dengan biaya sendiri dengan biaya 375 DM untuk biaya hidup satu bulan,sterusnya baru bisa mengajukan beasiswa .

        Aku pun bergegas pulang dan menceritakan hal ini ke Mami. Mami yang mendengar hal ini,langsung setuju dengan pernyataan tersebut. Mami berpesan kepadaku agar tidak memikirkan biaya kuliah yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

        Aku tiba di Jerman pada April 1955. Setibanya di Jerman,untuk sementara aku tinggal di Hotel Amstel. Keesokan harinya aku pergi ke Bonn untuk mendapatkan visa belajarku dari Kedutaan Besar Indonesia. Setelah dari Bonn,aku tak ingin membuang waktu dan langsung pergi ke Aachen untuk menemui Keng Kie.

        Keng kie terkejut melihatku bisa menyusulnya ke Jerman. Kemudian ia mengantarku untuk mencari tahu detail system perkuliahan di RWTH-Aachen Jerman. Menurut info yang didapat,untuk menjadi mahasiswa RWTH-Aachen,calon mahasiswa harus mengikuti ujian Studienkolleg. Selain itu juga,calon mahasiswa harus melakukan praktikum di pabrik besi dan mesin yang terletak di Koln-Kalk.

        Setelah itu,aku pamit kepada Keng Kie untuk melakukan praktikum disana selama kurang lebih 6 bulan. Tapi untuk memotong waktu dan biaya,aku hanya mengikuti praktikum selama 4 bulan saja. Di pabrik itu aku mencoba untuk membuat pesawat mainan yang bisa terbang sebagai hadiah untuk otak-ku yang sudah bekerja keras. Saat pesawat itu diterbangkan,orang-orang jerman menyaksikanku dan memuji hasil karyaku itu.

        Aku kembali ke Aachen pada Agustus 1955 dengan semangat yang luar biasa tinggi. Di tahun yang sama,aku menyaksikan Bung Karno berpidato pada saat kunjungan di Bonn. Dalam pidatonya,berharap mahasiswa yang sedang berkuliah di Jerman bisa lulus dan pulang untuk membuat pesawat dan kapal ketika mereka pulang. Selain itu,beliau juga mengharapkan mahasiswa Indonesia membentuk PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia).

   

        Untuk menghemat uang saat kuliah disini,aku memilihi tempat penginapan yang murah di pinggir kota Aachen. Aku tiinggal bersama keluarga Neuefeiend di Frankenberg Str 16.,Aachen,dan mandi di pemandian umum.

        Hingga tiba waktu ujian Studienkolleg,aku mengerjakan ujian itu dengan tenang dan mengandalkan otak pintarku. Dengan percaya diri aku mengumpulkan lembar ujian paling awal sebelum mahasiswa yang lain.

        Beberapa hari kemudian,hasil ujian pun muncul. Aku dan teman-teman bergegas melihat hasilnya di papan kampus. Namun,saat mencari-cari namaku,aku tidak melihat ada namaku dalam daftar itu. Aku sangat tertekan,perjuangan  dan impianku saat ini kandas. Saat itu,ada seorang pria jerman melihatku.

“Kamu kenapa?”tanyanya.

“Aku gagal ujian,”jawabku pasrah.

“Memangnya,siapa kamu?”kata lelaki jerman itu penasaran

        Kemudian aku memberitahukan nama lengkapku kepada pria itu. Ketika aku bersiap-siap hendak pergi,ternyata pria itu berinisiatif mencarikan namaku. Dengan wajah pasrah dan putus asa aku meninggalkan ruangan tersebut. Tapi,tiba-tiba ia mengejarku dan mengucapkan selamat kepadaku. Dalam hatiku bertanya apakah ini sebuah hinaan atau bukan. Tapi kemudian ia menarikku kembali ke daftar peserta yang lolos itu. Ia menunjukkan namaku terpampang disana. Aku senang bukan main,pria itu juga menyalamiku dengan kuat hingga aku kesakitan.

     

        Sudah 3 bulan berlalu,aku sangat menikmati masa-masa kuliahku di Jerman. Pembelajaran di kampus juga sangat efektif. Dan hari ini merupakan musim dingin. Hari ini pertama kali aku melihat salju turun.  Aku selalu memanfaatkan waktuku sebaik mungkin di Jerman. Disaat teman yang lain sedang mengatur jadwal untuk bermain ski,aku berusaha mengatur jadwal untuk terus berlatih,

        Ditengah kesibukan kuliah,aku mengikuti keanggotaan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Teman-temanku yang mengajakku bergabung dengan mereka. Dalam keanggotaan PPI tersebut,aku ditunjuk sebagai ketua PPI Aachen. Aku berusaha dengan keras dan berjanji kepada teman-temanku ntuk membuat PPI Aachen menjadi PPI yang dijadikan panutan dan contoh bagi PPI lain.

        Ditengah semakin memanasnya kondisi politik di Indonesia pada tahun 1955. Dimana terjadinya perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta. PPI Jerman pun terkena dampaknya,yang juga terjadi perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan munculnya dukungan dari Bung Karno dan Bung Hatta. Aku yang menjabat sebagai Ketua PPI Aachen tetap berpegang teguh bahwa PPI bersifat netral dan tidak ikut campur dalam kegiatan politik negara.

        Namun,keputusanku ini tidak sepenuhnya disenangi olah seluruh anggota PPI. Terutama dari golongan Laskar Pelajar. Mereka berpendapat bahwa Bung Karno memberikan kesempatan emas bagi PPI untuk mengemukakan rancangan dan rencana mereka secara langsung.

        Ketidakterimaan dari pihak Laskar Pelajar membuat mereka terus memaksaku. Mereka memaksaku untuk menandatangani rancangan pembentukan front yang seolah-olah mendukung Bung Karno. Tapi,karena sifatku yang keras kepala,aku tidak menanggapinya dan menolak tawaran Bung Karno yang menawarkan diri sebagai promotor dan inspirator. Sikapku ini juga membuat Duta Besar Indonesia Untuk Jerman marah. Ia memanggilku dan menegurku. Seperti biasa aku kembali berargumen dengannya.

        Namun setelah terus menerus beradu argument akhirnya Pak Zairin yang menjabat sebagai Duta Besar Indonesia akhirnya terdiam dan mendekatiku. Pak Zairin berkata bahwa beliau sangat bangga denganku.

        Dengan berakhirnya perdebatan didalam keanggotaan PPI kemudian kami melanjutkan rancangan yang kami buat.dan merencanakan pelaksanaan seminar yang dihadiri PPI seluruh Jerman. Seminar ini diberi nama “Seminar Pembangunan”.

        Hinga tiba hari seminar,sayangnya aku tidak bisa mengikuti seminar tersebut dikarenakan penyakit paru-paruku kambuh dan aku harus dirawat. Tapi dengan segera,aku langsung menunjuk perwakilan-perwakilan yang dapat mewakiliku dalam seminar pembangunanku.

        Akhirnya seminar Pembangunan itupun selesai. Teman-temanku sangat senang dan merayakan momen itu. Dibalik itu,aku yang terbaring di rumah sakit masih berjuang melawan penyakit TBC Tulang yang dideritaku. Di tengah penyelenggaraan Seminar Pembangunan itu mataku mulai kabur dan melihat cahay putih. Kemudia aku dibawa ke kamar jenazah.

        Beberapa lama kemudian,aku terbangun di ruang jenazah. Dengan rasa sakit yang tak kunjung reda,aku menulis sebuah sumpah yang berisi:

Sumpahku!

Terlentang!!!                           

Djatuh! Perih! Kesal!

Ibu Pertiwi

Engkau Pegangan Dalam Perdjalanan

Djanji pusaka dan sakti

Tumpah darahku

Makmur dan sutji.

Hantjur badan

Tetap berjalan

Djiwa besar dan Sutjii

Membawa aku padamu!!

 

          Ungkap diriku saat setengah sadar. Dikarenakan jadwal yang padat, aku sampai lupa menjaga  kekebalan tubuhku yang memiliki penyakit bawaan. Dibalik itu semua,teman-temanku tetap membantuku untuk menyusun rencana pembangunan 2 yang kami rancang sesuai tujuan kami.

        Di lain waktu,Ahmadi yang kini telah menjabat sebagai menteri transmigrasi,koperasi dan pembangunan Masyarakat,Desa,hadir kembali sebagai utusan pemerintah dalam konferensi PPI ke-4. Konferensi itu menjadi kontroversial dikarenakan Agus Nasution seorang mahasiswa Psikologi membacakan bahwa manifesto politik merupakan bagian dari konsep dan strategi PKI yang ingin menggambil kekuasaan.

        Mendengar hal ini,Bung Karno marah dan memanggil Duta Besar dan D.I.Pandjaitan untuk menegur mahasiswa PPI Jerman agar tidak dianggap anti Nasakom,anti Manipol,dan anti Bung Karno.

        Aku yang saat itu tidak peduli dengan hal itu dan sedang meyelesaikan proyek kuliahku. Ternyata terkena dampaknya juga. Proyek perhitunganku disita oleh Dapartemen Pertahanan Indonesia karena dianggap sebagai musuh NATO. Prof. ebner sebagai professor pendampingku akhirnya menjelaskan yang terjadi. Aku yang sudah susah payah mengerjakan proyek itu akhirnya hanya terdiam dan bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan. Tapi saat itu Prof. Ebner selalu mendukungku dan menasihatiku untuk terus mencoba. Sebagai sarannya,ia akan mencarikan proyek baru untukku agar dapat menyelesaikan kuliah.

        Dari cerita sejarah tersebut kita dapat memaknai perjuangan Prof. B. J. Habibie bahwa “Jangan pernah menyerah,walaupun selalu ada rintangan yang datang menghadang kita”

Sumber referensi: Buku Biografi "Rudy:Kisah Masa Muda Sang Visioner" karya Gina S. Noer


Demikian tugas ini saya selesaikan dengan penuh tanggung jawab,kurang lebihnya mohon maaf. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sebagai bahan pertimbangan untuk pembuatan tugas berikutnya. sekian dari saya dan terima kasih sudah membaca.

         

Kerangka Novel "Melawan Jebakan Si Pelik"

  Tugas Menyusun Kerangka Novel Nama :Eka Pradipa Sudrajat No Absen:06 Kelas:XII-MIPA-10 Kerangka Novel " Melawan Jebakan Si Pelik...