Tugas Menyusun Kerangka Novel
Nama :Eka Pradipa Sudrajat
No Absen:06
Kelas:XII-MIPA-10
Kerangka Novel
"Melawan Jebakan Si Pelik"
Tema
Novel yang daya buat bertema “Sosial”. Novel ini
menceritakan tentang kepala keluarga pas-pasan yang berusaha untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya keluarganya. Dibalik itu,ada cobaan yang selalu
mengujinya,hingga pada akhirnya ia bertemu seseorang yang menyelamatkannya
Judul
Novel ini
akan saya beri judul
“Melawan
Jebakan Si Pelik”
Tokoh & Perwatakan
a.
Tokoh Protagonis
·
Maryo
Memiliki sifat yang gigih meskipun beberapa kali
mengakami keputus asaan ia selalu mencoba mencari jalan,bertanggung jawab
terhadap keluarganya.
b.
Tokoh Antagonis
·
Pak Andi
Memiliki sifat yang licik dan bermuka dua,
c.
Tokoh Tritagonis
·
Istri &anak Maryo
Memiliki sifat tabah akan kesulitan yang dialami
keluarganya.
·
Wardi
Memiliki sifat Baik,ikhlas,dan bijaksana.
Alur
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur Maju,hal
ini dapat dilihat dari ceirta yang terus berjalan dengan adanya konflik yang
bermunculan.
Latar/Setting:
a.
Latar Tempat
·
Kota Bandung
·
Kantor Pak Andi
·
Rumah Maryo
·
Kampung halaman Maryo
·
Di Jalan
·
Rumah Wardi
b.
Latar Waktu
·
Di Sore Hari
·
Beberapa Minggu kemudian
·
Esok
c.
Latar Suasana
·
Keputus-asaan
·
Kesedihan
·
Rasa Lega
·
Kesenangan
Amanat
1.
Jangan mudah percaya dengan orang lain
2.
Jangan mudah berputus asa
3.
Selalu berpikir keras sebelum memutuskan hal yang dirasa berat
4.
Dibalik kesusahan ada jalan dan kemudahan
Ringkasan Novel
Melawan Jebakan
Si Pelik
Bekerja di jalanan bukanlah hal yang mudah,berpeluh
kesah dan bertaruh nyawa di tengah hiruk pikuknya kota demi sesuap nasi dan
kebutuhan sehari-hari. Aku ini hanyalah seorang pengemudi ojek online yang
tidak menentu upah setiap bulannya. Kadang mendapat bonus,kadang hanya cukup
untuk makan sehari-hari dengan lauk sederhana. Meski begitu aku tetap terus
berusaha untuk menghidupi keluarga kecilku untuk bertahan hidup ditengah kota
ini.
Maryo,begitu orang lain memanngilku.
Aku merupakan seorang perantau dari desa untuk bekerja ditengah hiruk pikuk
Kota Bandung yang hampir menyaingi hiruk pikuk ibukota. Untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluargaku,aku melakukan semua pekerjaan yang bisa
kulakukan,atau bisa disebut sebagai serabutan. Salah satunya adalah menjadi
pengemudi ojek online.
Sore itu seperti biasa,aku mendapat
orderan dari seorang pelanggan. Ia berpakaian seperti orang kantoran pada umumnya.
“Jadi Ojol
sudah lama pak?” Tanya pelangganku.
“Sudah sekitar
1 tahun bang”,jawabku.
Selama perjalanan kami terus berbicara satu sama lain
dan saling berbagi cerita pengalaman merantau kebetulan ia juga merupakan
seorang perantau dari luar pulau jawa. Pelangganku ini merupakan seorang
penyedia jasa keuangan.
Tak terasa akhirnya,kami sampai
ditempat tujuan. “Ini kartu pengenal saya pak,siapa tau sewaktu-waktu bapak membutuhkan dana yang mendesak”,ucap
pelangganku sambil memberi upah perjalanan dan kartu pengenalnya. Oh iyah
terimakasih bang”,jawabku sambill menerimanya. Setelah itu seperti biasa aku
harus pulang kerumah karena waktu sudah menjelang maghrib.
Sesampainya dirumah aku disambut oleh keluarga kecilku
dan mengajakku makan malam bersama. Setelah makan aku duduk manis diteras
sambil menikmati udara malam.
“Pak..”panggill istriku sambil menunjukkan raut mengganjal.
“Iya bu? Ada apa?”,jawabku.
“Mmm jadi
gini,Dimas anak kita belum membayar uang spp selama tiga bulan,dan ibu mendapat
surat teguran dari sekolah,bagaimana ini pak?”,lanjutnya.
“Aduh,bagaimana
ya bu? bapak juga belum ada uang bu,bulan-bulan ini rasanya pesanan sedang sepi”,jawabku
sambil mencari jalan keluar untuk membayar spp anakku.
“Gimana
kalau uang yang ada di tabungan kita pakai dulu bu?”,tanyaku memberi solusi.
“Tapi kan
itu untuk simpanan kalau-kalau ada kepentingan mendadak yang mendesak pak?”
“Tapi hal
ini juga mendesak bu,apalagi sudah diberi teguran oleh pihak sekolah,nanti
bapak akan cari uang tambahan agar bisa menutupi uang tabungan yang terpakai
itu”
“Ya sudah
kalau begitu”,istriku menerima dengan berat hati.
Minggu-minggu selanjutnya aku hadapi dengan penuh
semangat,aku mencari tambahan uang kesana-kemari untuk menutupi dana yang
terpakai itu. Mulai dari menjadi kurir hingga antar jemput pelanggan borongan.
Namun itu saja belum cukup untuk mengganti uang tabungan itu.
Ditengah mati-matian mencari uang tambahan. Aku mendapat
kabar buruk yang sangat membuat hatiku terpukul. Adikku di desa mengabarkan
bahwa ibuku meninggal dunia.
“Halo kak” Sapa adikku.
“Halo Iya dek ada apa?”
“Maaf ganggu waktunya kak,kakak bisa pulang kesini
tidak kak?”
“Sekarang? Emangnya ada apa dek?”
“I..ibu meninggal dunia tadi pagi kak”
Aku yang
mendengar berita itu lantas terdiam seperti tidak percaya akan kabar duka itu.
Kemudian setelah mengakhiri percakapan dengan
adikku,aku langsung bergegas pulang kerumah untuk mengabari anak dan istriku
dirumah. Kami bergegas mmembereskan pakaian kami. Namun ada satu hal yang
mengganjal,yaitu biaya. Kami tidak mempunyai cukup biaya untuk pergi pulang kampung
ke desa kami. Bahkan uang yang baru aku kumpulkan hanya mampu untuk membayar
seperempatnya saja.Aku semakin bingung dan gundah dengan masalah ini,haruskah
aku tidak hadir dalam persemayaman terakhir ibuku?
Hingga kemudian aku teringat pada pelangganku di sore
itu,ia bernama Andi. Aku buru-buru mencari kartu namanya yang kusimpan di
dompetku,dan menghubungunya. Setelah itu aku diperintahkan untuk datang ke
kantornya. Aku menyampaikan bahwa aku membutuhkan uang pinjaman saat itu.
Kemudian pak Andi meminjamkan uang yang diminta,Namun
dengan jaminan barang yang ditahan sebagai jaminan. Tanpa pikir panjang aku
lantas menggadaikan motorku dan langsung berangkat ke desa menggunakan
kendaraan umum bersama keluargaku.
Singkat cerita,kurang lebih selama seminggu lebih aku berkunjung
di desa,kemudian akhirnya kami kembali lagi ke Bandung. Keesekoan harinya aku
bergegas kembali untuk mengambil motorku di kantor pak Andi. Namun setelah
sampai kantor,menurut pak Andi motor milikku belum bisa diambil kembali hingga
aku membayar hutangku seperempat dan bunganya.
Aku merasa terkejut mendengar hal itu,tetapi kemudian
aku langsung segera mencari pekerjaan serabutan seperti menjadi kuli panggul
dipasar. Meski tidak seberapa upahnya,tetapi lumayan untuk menebus motorku yang
ditahan.
Hari demi hari kukumpulkan uang tebusan agar dapat
menebus motorku. Hingga tiba akhirnya uangku cukup sesuai yang pak Andi minta. Namun
,saat aku datangi kantor Pak Andi,menurutnya uang yang ku kumpulkan belum cukup
karena bunga pinjaman terus bertambah.
Aku yang kesal dan putus asa dengan permintaan pak
Andi,akhirnya pulang dengan menyesali pinjaman dana itu. Entah dengan cara
apalagi ku harus memperbaiki situasi ini,uang tabunganku habis,motor untuk
mencari nafkah disita,dan kini harus membayar uang pinjaman beserta bunganya.
Pada saat dalam keterpurukan itu aku bertemu dengan
sahabat lamaku Wardi ia merupakan lulusan sarjana keuangan,aku menceritakan
bahwa aku sedang membutuhkan sejumlah uang. Tetapi saat itu aku tidak
menceritakan masalahku dengan pak Andi dan untuk apa uang itu digunakan.
Beberapa minggu kemudian aku datang ke kantor pak
Andi,Namun hal buruk kembali menimpaku,kantor pak Andi terlihat tutup dan sudah
ditinggalkan. Semua barang-barang yang ada dibwanya,taka da yang tersisa
termasuk motorku.
Kembali merasa putus asa,kemudian aku kembali kepada
Wardi untuk mengembalikan uang yang kupinjam darinya,uang itu belum kupakai
sepeser pun. Wardi yang merasa heran lantas bertanya tentang masalahku. Ia mendengarkan
ceritaku dari awal hingga akhir.
Kebetulan saat itu,ia menjabat sebagai salah satu
pegawai OJK(Otoritas Jasa Keuangan) dan sedang memburu lembaga-lembaga pinjaman
illegal. Ia sangat antusias dalam membantuku hingga pada akhirnya aku dapat
mendapatkan kembali motor untuk kerjaku sehari-hari. Ini membuatku sedikit lega
dan senang mempunyai sahabat sepertinya.
Novel ini saya rancang berdasarkan inspirasi dari
peristiwa yang marak terjadi saat ini. Saya harap,semoga novel ini dapat
menginspirasi orang lain agar lebih berhati-hati
|
Bagian Awal |
|
|
Bab I |
Pengenalan
Tokoh Maryo sebagai Tulang punggung keluarga kecilnya. |
|
Bab II |
Pertemuan
Maryo dengan Pak Andi |
|
Bagian Tengah |
|
|
Bab III |
Mengambil
Keputusan: Maryo sementara menggunakan uang tabungannya untuk membayar uang
sekolah anaknya. |
|
Bab IV |
Menutup
Lubang:Maryo mengumpulkan kembali uang tabungan yang ditabungnnya untuk
kebutuhan sewaktu-waktu |
|
Bab V |
Masalah
Baru: Ibunda Maryo meninggal ditengah krisis Ekonomi yang menimpa Maryo |
|
Bab VI |
Mencari
pinjaman: Maryo mecari pinjaman untuk ongkos ia pulang ke kampung |
|
Bab VII |
Kembali
ke kampung |
|
Bab VIII |
Menebus
kembali motor yang Maryo jadikan jaminan |
|
Bab IX |
Mencari
pinjaman kembali |
|
Bab X |
Memburu
Lembaga Ilegal |
|
Bagian Akhir |
|
|
Bab XI |
Terkuaknya
akar bisnis ilegal |
|
Bab XII |
Belajar
dari Pengalaman |