Assalamualaikum Wr.Wb.
Laman Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa
Indonesia yang menyangkut BAB “Teks Editorial”. Sebelumnya,izinkan saya
memperkenalkan diri,
Nama:Eka
Pradipa Sudrajat
No Absen:06
Kelas:XII-MIPA-10
“Munculnya Kasus Baru diawal Pembelajaran Tatap Muka”
Sumber Gambar:www.okezone.com
Penurunan jumlah kasus Covid-19,membawa dampak baik bagi kita semua. Beberapa fasilitas publik sudah mulai dibuka,salah satunya adalah sekolah. Dengan dibukanya sekolah,siswa-siswi dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Namun,apakah dengan kembali dibukanya sekolah akan berdampak baik bagi kasus Covid-19 yang masih ada hingga kini?
Pembukaan fasilitas-fasilitas umum seperti mall,pasar,tempat ibadah,dan sekolah setelah dilakukannya pembatasan sosial tentu berdampak baik bagi semua sektor. Salah satunya bagi sektor pendidikan. Pembelajaran yang sebelumnya dilakukan secara daring,kini dapat dilakukan secara tatap muka di sekolah dengan protokol kesehatan yang ketat.Dengan kembali dibukanya sekolah, diharapkan kegiatan belajar dan mengajar dapat lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang dilakukan dari rumah.
Namun,dibalik itu tedapat resiko-resiko tinggi yang mengancam mereka. Beberapa kasus baru bermunculan,seperti kasus yang terjadi di Kota Bandung,Jawa Barat.Dimana 214 siswa dan 15 guru yang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) dinyatakan positif Covid-19.Menurut Ahyani sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung dari 47 sekolah yang dites Covid-19, persentase terkonfirmasi melebihi 5 persen dari siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka dalam suatu sekolah. Dengan begitu, ke-47 sekolah itu berpotensi tidak melanjutkan sementara PTM dan kembali ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal itu sesuai aturan di mana sekolah yang memiliki persentase positif Covid-19 di atas 5 persen maka harus menghentikan PTM.
Tidak hanya itu,di Kulon Progo,Jogjakarta,terdapat 61 kasus siswa yang positif Covid saat diambil sample secara acak.Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 KulonProgo, Baning Rahayujati belum ada penularan yang menyebabkan klaster di sekolah,dimana kasus ini masih ada hubungannya dengan klaster lain.Kasus yang terjadi di Kulon Progo ini masih dalam penanganan lebih lanjut darimana kasus-kasus Covid tersebut bermunculan agar tidak terjadi munculnya klaster baru."Kami belum menemukan bahwa telah terjadi klaster sekolah. Jadi kami belum menemukan adanya hubungan antara satu kasus dengan kasus yang lainnya di 61 kasus itu," kata Baning kepada awak media.
Penambahan kasus baru di kalangan siswa-siswi yang belajar di sekolah bukanlah hal yang sepele. Jika tidak ditangani,dikhawatirkan akan terjadi munculnya klaster baru di kalangan anak sekolah. Pemerintah harus sigap dalam menangani hal ini,agar jumlah kasus Covid-19 tidak semakin bertambah
Butuhnya kesadaran masyarakat,terutama pelajar diluar sekolah juga merupakan faktor utama dalam menangani kasus-kasus ini. Karena,pemerintah dan pihak sekolah hanya dapat memantau saat siswa sedang di lingkungan sekolah. Dan selebihnya merupakan kesadaran masing-masing siswa itu sendiri.
Pengecekan dan penanganan yang tanggap melalui test acak yang dilakukan oleh pemerintah,merupakan langkah yang sangat tepat. Penutupan sekolah yang terdampak juga termasuk langkah yang tepat guna menghindari munculnya klaster baru dari sekolah.
Selanjutnya pemerintah tinggal meningkatkan kembali penanganan agar semakin baik dan cepat. Sehingga dengan penanganan yang matang ini diharapkan masyarakat dapat terlindungi dari Covid-19.
Demikian Tugas yang saya buat,mohon maaf apabila ada
kesalahan. Saya mengharapkan adanya kritik dan saran dari bapak-ibu serta
rekan-rekan sekalian. Terimakasih sudah membaca.
Wassalamualaikum Wr. Wb.