Rabu, 16 Maret 2022

Kerangka Novel "Melawan Jebakan Si Pelik"

 

Tugas Menyusun Kerangka Novel

Nama :Eka Pradipa Sudrajat

No Absen:06

Kelas:XII-MIPA-10


Kerangka Novel

"Melawan Jebakan Si Pelik"

 

 

Tema

        Novel yang daya buat bertema “Sosial”. Novel ini menceritakan tentang kepala keluarga pas-pasan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya keluarganya. Dibalik itu,ada cobaan yang selalu mengujinya,hingga pada akhirnya ia bertemu seseorang yang menyelamatkannya 

 

Judul

Novel ini akan saya beri judul

“Melawan Jebakan Si Pelik”

 

Tokoh & Perwatakan

a.       Tokoh Protagonis

·         Maryo

Memiliki sifat yang gigih meskipun beberapa kali mengakami keputus asaan ia selalu mencoba mencari jalan,bertanggung jawab terhadap keluarganya.

b.      Tokoh Antagonis

·         Pak Andi

Memiliki sifat yang licik dan bermuka dua,

c.       Tokoh Tritagonis

·         Istri &anak Maryo

Memiliki sifat tabah akan kesulitan yang dialami keluarganya.

·         Wardi

Memiliki sifat Baik,ikhlas,dan bijaksana.

 

Alur

        Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur Maju,hal ini dapat dilihat dari ceirta yang terus berjalan dengan adanya konflik yang bermunculan.

Latar/Setting:

a.       Latar Tempat

·         Kota Bandung

·         Kantor Pak Andi

·         Rumah Maryo

·         Kampung halaman Maryo

·         Di Jalan

·         Rumah Wardi

b.      Latar Waktu

·         Di Sore Hari

·         Beberapa Minggu kemudian

·         Esok

c.       Latar Suasana

·         Keputus-asaan

·         Kesedihan

·         Rasa Lega

·         Kesenangan

 

Amanat

1.      Jangan mudah percaya dengan orang lain

2.      Jangan mudah berputus asa

3.      Selalu berpikir keras sebelum memutuskan hal yang dirasa berat

4.      Dibalik kesusahan ada jalan dan kemudahan

 

Ringkasan Novel

Melawan Jebakan Si Pelik

 

            Bekerja di jalanan bukanlah hal yang mudah,berpeluh kesah dan bertaruh nyawa di tengah hiruk pikuknya kota demi sesuap nasi dan kebutuhan sehari-hari. Aku ini hanyalah seorang pengemudi ojek online yang tidak menentu upah setiap bulannya. Kadang mendapat bonus,kadang hanya cukup untuk makan sehari-hari dengan lauk sederhana. Meski begitu aku tetap terus berusaha untuk menghidupi keluarga kecilku untuk bertahan hidup ditengah kota ini.

            Maryo,begitu orang lain memanngilku. Aku merupakan seorang perantau dari desa untuk bekerja ditengah hiruk pikuk Kota Bandung yang hampir menyaingi hiruk pikuk ibukota. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku,aku melakukan semua pekerjaan yang bisa kulakukan,atau bisa disebut sebagai serabutan. Salah satunya adalah menjadi pengemudi ojek online.

            Sore itu seperti biasa,aku mendapat orderan dari seorang pelanggan. Ia berpakaian seperti orang kantoran pada umumnya.

“Jadi Ojol sudah lama pak?” Tanya pelangganku.

“Sudah sekitar 1 tahun bang”,jawabku.

            Selama perjalanan kami terus berbicara satu sama lain dan saling berbagi cerita pengalaman merantau kebetulan ia juga merupakan seorang perantau dari luar pulau jawa. Pelangganku ini merupakan seorang penyedia jasa keuangan.

            Tak terasa akhirnya,kami sampai ditempat tujuan. “Ini kartu pengenal saya pak,siapa tau sewaktu-waktu  bapak membutuhkan dana yang mendesak”,ucap pelangganku sambil memberi upah perjalanan dan kartu pengenalnya. Oh iyah terimakasih bang”,jawabku sambill menerimanya. Setelah itu seperti biasa aku harus pulang kerumah karena waktu sudah menjelang maghrib.

        Sesampainya dirumah aku disambut oleh keluarga kecilku dan mengajakku makan malam bersama. Setelah makan aku duduk manis diteras sambil menikmati udara malam.    

“Pak..”panggill istriku sambil menunjukkan raut mengganjal.

“Iya bu? Ada apa?”,jawabku.

“Mmm jadi gini,Dimas anak kita belum membayar uang spp selama tiga bulan,dan ibu mendapat surat teguran dari sekolah,bagaimana ini pak?”,lanjutnya.

“Aduh,bagaimana ya bu? bapak juga belum ada uang bu,bulan-bulan ini rasanya pesanan sedang sepi”,jawabku sambil mencari jalan keluar untuk membayar spp anakku.

“Gimana kalau uang yang ada di tabungan kita pakai dulu bu?”,tanyaku memberi solusi.

“Tapi kan itu untuk simpanan kalau-kalau ada kepentingan mendadak yang mendesak pak?”

“Tapi hal ini juga mendesak bu,apalagi sudah diberi teguran oleh pihak sekolah,nanti bapak akan cari uang tambahan agar bisa menutupi uang tabungan yang terpakai itu”

“Ya sudah kalau begitu”,istriku menerima dengan berat hati.

 

        Minggu-minggu selanjutnya aku hadapi dengan penuh semangat,aku mencari tambahan uang kesana-kemari untuk menutupi dana yang terpakai itu. Mulai dari menjadi kurir hingga antar jemput pelanggan borongan. Namun itu saja belum cukup untuk mengganti uang tabungan itu.

        Ditengah mati-matian mencari uang tambahan. Aku mendapat kabar buruk yang sangat membuat hatiku terpukul. Adikku di desa mengabarkan bahwa ibuku meninggal dunia.

“Halo kak” Sapa adikku.

“Halo Iya dek ada apa?”

“Maaf ganggu waktunya kak,kakak bisa pulang kesini tidak kak?”

“Sekarang? Emangnya ada apa dek?”

“I..ibu meninggal dunia tadi pagi kak”

Aku yang mendengar berita itu lantas terdiam seperti tidak percaya akan kabar duka itu.

        Kemudian setelah mengakhiri percakapan dengan adikku,aku langsung bergegas pulang kerumah untuk mengabari anak dan istriku dirumah. Kami bergegas mmembereskan pakaian kami. Namun ada satu hal yang mengganjal,yaitu biaya. Kami tidak mempunyai cukup biaya untuk pergi pulang kampung ke desa kami. Bahkan uang yang baru aku kumpulkan hanya mampu untuk membayar seperempatnya saja.Aku semakin bingung dan gundah dengan masalah ini,haruskah aku tidak hadir dalam persemayaman terakhir ibuku?

        Hingga kemudian aku teringat pada pelangganku di sore itu,ia bernama Andi. Aku buru-buru mencari kartu namanya yang kusimpan di dompetku,dan menghubungunya. Setelah itu aku diperintahkan untuk datang ke kantornya. Aku menyampaikan bahwa aku membutuhkan uang pinjaman saat itu.

        Kemudian pak Andi meminjamkan uang yang diminta,Namun dengan jaminan barang yang ditahan sebagai jaminan. Tanpa pikir panjang aku lantas menggadaikan motorku dan langsung berangkat ke desa menggunakan kendaraan umum bersama keluargaku.

        Singkat cerita,kurang lebih selama seminggu lebih aku berkunjung di desa,kemudian akhirnya kami kembali lagi ke Bandung. Keesekoan harinya aku bergegas kembali untuk mengambil motorku di kantor pak Andi. Namun setelah sampai kantor,menurut pak Andi motor milikku belum bisa diambil kembali hingga aku membayar hutangku seperempat dan bunganya.

        Aku merasa terkejut mendengar hal itu,tetapi kemudian aku langsung segera mencari pekerjaan serabutan seperti menjadi kuli panggul dipasar. Meski tidak seberapa upahnya,tetapi lumayan untuk menebus motorku yang ditahan.

        Hari demi hari kukumpulkan uang tebusan agar dapat menebus motorku. Hingga tiba akhirnya uangku cukup sesuai yang pak Andi minta. Namun ,saat aku datangi kantor Pak Andi,menurutnya uang yang ku kumpulkan belum cukup karena bunga pinjaman terus bertambah.

        Aku yang kesal dan putus asa dengan permintaan pak Andi,akhirnya pulang dengan menyesali pinjaman dana itu. Entah dengan cara apalagi ku harus memperbaiki situasi ini,uang tabunganku habis,motor untuk mencari nafkah disita,dan kini harus membayar uang pinjaman beserta bunganya.

        Pada saat dalam keterpurukan itu aku bertemu dengan sahabat lamaku Wardi ia merupakan lulusan sarjana keuangan,aku menceritakan bahwa aku sedang membutuhkan sejumlah uang. Tetapi saat itu aku tidak menceritakan masalahku dengan pak Andi dan untuk apa uang itu digunakan.

        Beberapa minggu kemudian aku datang ke kantor pak Andi,Namun hal buruk kembali menimpaku,kantor pak Andi terlihat tutup dan sudah ditinggalkan. Semua barang-barang yang ada dibwanya,taka da yang tersisa termasuk motorku.

        Kembali merasa putus asa,kemudian aku kembali kepada Wardi untuk mengembalikan uang yang kupinjam darinya,uang itu belum kupakai sepeser pun. Wardi yang merasa heran lantas bertanya tentang masalahku. Ia mendengarkan ceritaku dari awal hingga akhir.

        Kebetulan saat itu,ia menjabat sebagai salah satu pegawai OJK(Otoritas Jasa Keuangan) dan sedang memburu lembaga-lembaga pinjaman illegal. Ia sangat antusias dalam membantuku hingga pada akhirnya aku dapat mendapatkan kembali motor untuk kerjaku sehari-hari. Ini membuatku sedikit lega dan senang mempunyai sahabat sepertinya.

        Novel ini saya rancang berdasarkan inspirasi dari peristiwa yang marak terjadi saat ini. Saya harap,semoga novel ini dapat menginspirasi orang lain agar lebih berhati-hati

 

Bagian Awal

Bab I

Pengenalan Tokoh Maryo sebagai Tulang punggung keluarga kecilnya.

Bab II

Pertemuan Maryo dengan Pak Andi

Bagian Tengah

Bab III

Mengambil Keputusan: Maryo sementara menggunakan uang tabungannya untuk membayar uang sekolah anaknya.

Bab IV

Menutup Lubang:Maryo mengumpulkan kembali uang tabungan yang ditabungnnya untuk kebutuhan sewaktu-waktu

Bab V

Masalah Baru: Ibunda Maryo meninggal ditengah krisis Ekonomi yang menimpa Maryo

Bab VI

Mencari pinjaman: Maryo mecari pinjaman untuk ongkos ia pulang ke kampung

Bab VII

Kembali ke kampung

Bab VIII

Menebus kembali motor yang Maryo jadikan jaminan

Bab IX

Mencari pinjaman kembali

Bab X

Memburu Lembaga Ilegal

Bagian Akhir

Bab XI

Terkuaknya akar bisnis ilegal

Bab XII

Belajar dari Pengalaman

 

 

Kerangka Novel "Melawan Jebakan Si Pelik"

  Tugas Menyusun Kerangka Novel Nama :Eka Pradipa Sudrajat No Absen:06 Kelas:XII-MIPA-10 Kerangka Novel " Melawan Jebakan Si Pelik...