Rabu, 20 Oktober 2021

Rudy Habibie sang Visioner

 NAMA:EKA PRADIPA SUDRAJAT

NO ABSEN:06

KELAS:XII-MIPA-10

Blog ini dibuat dengantujuan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia mengenai Teks Cerita Sejarah.


Rudy Habibie sang Visioner

        Namaku Bacharuddin Jusuf Habibie,orang orang memanggilku dengan panggilan “Rudy”. Aku dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare,sebuah kota kecil di provinsi Sulawesi Selatan. Aku merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara,yang merupakan buah dari pasangan yang bernama Alwi Abdul Jalil Habibie,seorang pria berdarah Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo,seorang wanita berdarah Jawa yang biasa aku panggil “Papi dan Mami”.

        Saat melahirkanku,Mami dibantu oleh Indo Melo,dukun beranak. Indo Melo merupakan salah satu saksi kalau pada saat itu semua mata tertuju pada diriku. Menurut orang-orang,tangisanku adalah tangisan bayi paling kencang saat itu,hingga bertanya-tanya kalau-kalau aku tersakiti sesuatu. Dari cerita ibu,jika aku menangis sangat sulit untuk menenangkannya sampai-sampai ibuku kewalahan. Menurutnya,aku sulit sekali untuk tidur dan hanya tidur selama 4 jam,selebihnya aku akan terus menangis.

“Rudy itu lho,Koene,tak pernah bias tidur!” keluh Mami dalam bahasa Belanda kepada Papi.

“Tapi dia tidak sakit,kan?”Tanya Papi.

Mami hanya menggeleng,kurang yakin dengan jawabannya.

        Beberapa saudaraku yang sering main ke rumah sering berkomentar macam-macam. Salah satu saudaraku juga ada yang berkata,”Anakmu kok tidak tidur-tidur,mungkin sakit. Coba periksa. Sering-sering didoakan barangkali kena sesuatu. Air susumu mungkin kurang bagus,makananmu dijaga. Bayi kalau kurang tidur pertumbuhannya suka terganggu,lho.”

        Mami masih kebingungan sebenarnya apa mauku saat itu. Namun,saat terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan Papi dari ruangan sebelah,tangisku mulai mereda hingga akhirnya berhenti. Sejak saat itu keluargaku mencari cara agar aku berhenti menangis,yaitu dengan membelikanku piringan musik klasik. Selama piringan itu diputar,aku tetap tenang dan berhenti menangis.

        Namun,solusi itu hanya bertahan sekitar dua hingga tahun saja,begitu aku mulai bias berbicara,pertanyaan demi pertanyaan selalu aku ajukan. Dengan sabar,Papi selalu menjawab pertanyaanku dengan sepenuh hati.

        Papiku merupakan seorang Landbouwconsulent Parepare,atau setingkat Kepala Dinas Pertanian di Parepare. Ia jarang pulang karena sibuk mengurus tanah-tanah pertanian milik warga Parepare. Terkadang,ia juga sering mengajakku ke lahan pertanian untuk mengenalkanku dengan dunia pertanian. Namun,karena pekerjaannya itu,ia tidak selalu ada 24 Jam untuk menjawab pertanyaanku. Sebagai gantinya,Papi mengajarkanku membaca agar aku bias mencari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku melalui buku-buku. Jika aku ada pertanyaan baru,saat Papi pulang aku akan berdiskusi dengannya. Karena ketertarikanku pada bacaan dan buku-buku,pada umur 4 tahun aku sudah lancar membaca. Buku sudah menjadi cinta pertamaku dan membaca adalah hidupku.

       Buku-buku ilmiah seperti ensiklopedia,buku karangan Leonardo Da Vinci,dan cerita fiksi ilmiah karya Jules Verne adalah favoritku. Karena ketertarikanku pada membaca,aku sampai menghabiskan waktu keseharianku di dalam kamar. Kegemaranku ini memiliki efek samping,karena tak terbiasa berbicara dengan orang lain aku menjadi anak yang gagap.

     

        Berbeda 180 derajat dengan adik laki-lakiku Fanny. Ia merupakan anak yang flamboyan dan bandel. Jika ia sudah pergi bermain ia selalu saja lupa waktu untuk pulang hingga kakak-kakaknya ditugaskan mencarinya. Ia sering sekali mengajakku untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-teman disekitar rumah. Terkadang aku malas dan hanya ingin membaca buku dirumah. Tapi ketika ia memaksaku mau tak mau aku harus ikut keluar sambil membawa buku bacaanku.

        Masa kecil yang menyenangan di Parepare berubah pada akhir 1941. Ketika itu,dunia sedang berubah seiring memuncaknya Perang Dunia II. Pemboman Jepang terhadap Pearl Harbour pun berdampak pada negara di Asia Timur termasuk Indonesia. Parepare sebagai kota penting Belanda merupakan salah satu sasaran penting yang harus direbut Jepang.

        Ancaman pengeboman udara oleh Jepang,membuat aku harus berbekal dengan sepotong karet (stief) yang dikalungkan di leher untuk berjaga-jaga jika ada pemboman mendadak. Karet ini digunakan dengan digigit,untuk mencegah tekanan pada telinga saat berada di lubang perlindungan.

        Ironisnya pada saat itulah aku mulai mengenal pesawat terbang. Dalam kepalaku saat itu,pesawat merupakan benda yang kejam karena membawa bom hingga bisa mencelakakan dan memisahkan buku dan mainan di kamarnya.

        Karena makin seringnya pengeboman,Papi memutuskan bahwa keluarga kami mau tak mau harus mengungsi ke sebuah desa ,di Teteaji pada 1942. Aku tidak terlalu paham tentang situasi genting saat itu,aku hanya ingat kalau Mami memberikan karet (stief) yang dikalungkan dileherku dan saudaraku.

        Setelah mengungsi beberapa bulan,keluarga kami akhirnya kembali ke rumah kami di Parepare. Aku senang sekali,karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan buku-buku dan mainan-mainanku,.

        Namun,dua tahun berlalu,pada November 1944,kami sekeluarga harus mengungsi lagi karena pengeboman di lakukan kembali oleh Sekutu-Amerika dengan sasaran yang sama,Pelabuhan Parepare. Kali ini kami mengungsi di desa kecil bernama Lanrae.Di pengungsian ini,seperti biasa Papi mengajakku menyusuri hutan dan mengajakku bermain di mata air.

“Rud ,coba kamu lihat sekeliling kamu,” kata Papi.

        Aku yang sedang bermain air berhenti sejenak dan memandang sekeliling. Aku melihat tanam-tanaman yang tumbuh subur,semuanya tampak segar dan hijau. Beberapa petani mengambil air dari mata air itu dan menggunakannya untuk menyiram tanaman.

“Menurut kamu,kenapa semua tanaman disini bisa tumbuh subur?”

“Karena dekat air,”jawabku polos.

“Benar,karena itu kamu harus jadi mata air.”

“Kalau kamu baik,semua yang di sekelilingmu juga akan baik. Kalau kamu kotor semua,semua yang di sekitarmu akan mati,”kata papi.

 Perlahan aku memahami maksud dari perkataan Papi dan selalu ku ingat.

        Kami mengungsi cukup lama hingga hampir dua tahun,dari1944 hingga 1945 akhir,hingga tiba saatnya kekalahan Jepang.Akibat dari peristiwa tersebut,Papi kehilangan pekerjaannya dan hanya tinggal di rumah. Terkadang Papi merenungi peristiwa itu,karena peristiwa itu juga kakaknya yang merupakan seorang bupati ditembak oleh Jepang karena dianggap menambah beban.

         Hari demi hari peristiwa itu kami tutupi dengan berita-berita gembira. Karier Papi yang semakin membaik dan keluarga kami yang diterima keluarga Papi di Gorontalo,mengembalikan warna kebahagiaan yang hilang.

        Tapi ditengah kebahagiaan itu muncul kembali satu kabar duka. Sore itu,13 September 1950,semua anggota keluarga tengah bersiap-siap menjalankan shalat seperti biasa. Suasana shalat berlangsung dengan khusyuk sampai tiba di sujud terakhir. Namun,ada yang berbeda kali ini. Papi terus sujud dan tidak kunjung bangun. Kami menunggu Papi cukup lama namun Papi tak kunjung bangun. Fanny yang berada disebelahku mengisyaratkan untuk mencolek Papi. Aku yang mulai pening mencoba menggoyangkan kaki Papi. Tapi saat itu kaki Papi sangat dingin,keluarga lain yang panik kemudian mencoba membangunkan Papi dengan kencang,namun tidak ada respon. Sore itu tangisan pecah memenuhi ruangan. Sore itu,13 September 1950,diam-diam kebahagiaan pamit dari rumah kami.

        Kepergian Papi meninggalkan luka yang dalam bagi kami. Kini Mami lah yang menjadi tanggung jawab kami. Sebelum pergi,Papi menitipkan wejangan agar jika terjadi apa-apa sebaiknya kami pindah ke Jawa. Papi juga menitipkan wejangan kepada Mami agar Mami menyekolahkanku setinggi-tingginya.

        Beberapa waktu berlalu akhirnya hanya aku yang dikirim ke Jakarta untuk bersekolah,disana aku bertujuana untuk menamatkan masa-masa SMA ku. Namun,masalah kembali datang karena ternyata sekolah-sekolah Belanda ikut ditutup. Akhirnya Mami memutuskan untuk membawa keluarga berkumpul di Bandung. Disinilah aku menghabiskan masa-masa SMA ku.

        Kemudian setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia ITB di Bandung. Di kampus ini aku bertemu kembali dengan teman lamaku,Liem Kieng Kie yang aku kenal di bangku SMA.Pertemuan kembali dengan Liem Kieng Kie membuat aku semakin dekat dengannya.

Pada Oktober 1954,Aku menyapa Keng Kie yang baru saja turun dari bus.

“Hey Keng Kie,dari mana kamu?”tanyaku.

“Saya baru mengambil visum di kedutaann Jerman Rud,”jawab Keng Kie.

“Untuk apa visum?”

“Saya akan sekolah teknik penerbangan di Jerman!”

Mendengar hal itu,aku langsung berteriak “Ik ga met jou mee! Saya ikut dengan kamu!”

        Keng Kie hanya menggelengkan kepala. Aku kembali bertanya-tanya padanya tentang kuliah di Jerman. Keng Kie bererita bahwa ia mendapat beasiswa ke Jerman dari pemerintah. Namun,pendaftarannya sudah ditutup. Saat itu kekerasan hatiku muncul “Pokoknya kamu tunggu disana! Kita bertemu di Jerman!” kataku sambil meninggalkan Keng Kie.

        Sesampainya dirumah,aku langsung bertanya-tanya kepada anak-anak yang indekos dirumahku mengenai beasiswa tersebut. Aku disarankan untuk mengikuti ujian P-1 untuk beasiswa. Namun,menurut info yang diberikan ujain tersebut biasanya diikuti oleh mahasiswa yang sudah berkuliah minimal dua tahun,sedangkan aku baru berkuliah tiga bulan di ITB.

        Dengan keteguhan hati,aku tetap mencoba ujian tersebut dengan belajar melalui anak-anak indekos di rumahku.

        Hingga waktu ujian pun tiba,aku mengerjakan ujian itu dengan sebaik-baiknya. Di luar dugaan,akhirnya aku lulus ujian beasiwa tersebut dan mendapat kesempatan untuk mendapat beasiswa kuliah di luar negeri.

        Namun,setelah mendapat rekomendasi dari para professor dan mengurus persyaratan ke P&K untuk bisa kuliah di Jerman. Salah satu pegawai P&K mengatakan bahwa aku tidak bisa berangkat ke Jerman dikarenakan telat mendaftar dan sebagai gantinya aku ditawarkan untuk mendapat beasiswa kuliah ke Australia.

        Karena kegigihanku yang sangat ingin berkuliah di Jerman,aku mengotot untuk ingin berkuliah di Jerman. Kemudian pihak P&K menyarankan jika aku masih bisa berangkat ke Jerman tetapi dengan biaya sendiri dengan biaya 375 DM untuk biaya hidup satu bulan,sterusnya baru bisa mengajukan beasiswa .

        Aku pun bergegas pulang dan menceritakan hal ini ke Mami. Mami yang mendengar hal ini,langsung setuju dengan pernyataan tersebut. Mami berpesan kepadaku agar tidak memikirkan biaya kuliah yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

        Aku tiba di Jerman pada April 1955. Setibanya di Jerman,untuk sementara aku tinggal di Hotel Amstel. Keesokan harinya aku pergi ke Bonn untuk mendapatkan visa belajarku dari Kedutaan Besar Indonesia. Setelah dari Bonn,aku tak ingin membuang waktu dan langsung pergi ke Aachen untuk menemui Keng Kie.

        Keng kie terkejut melihatku bisa menyusulnya ke Jerman. Kemudian ia mengantarku untuk mencari tahu detail system perkuliahan di RWTH-Aachen Jerman. Menurut info yang didapat,untuk menjadi mahasiswa RWTH-Aachen,calon mahasiswa harus mengikuti ujian Studienkolleg. Selain itu juga,calon mahasiswa harus melakukan praktikum di pabrik besi dan mesin yang terletak di Koln-Kalk.

        Setelah itu,aku pamit kepada Keng Kie untuk melakukan praktikum disana selama kurang lebih 6 bulan. Tapi untuk memotong waktu dan biaya,aku hanya mengikuti praktikum selama 4 bulan saja. Di pabrik itu aku mencoba untuk membuat pesawat mainan yang bisa terbang sebagai hadiah untuk otak-ku yang sudah bekerja keras. Saat pesawat itu diterbangkan,orang-orang jerman menyaksikanku dan memuji hasil karyaku itu.

        Aku kembali ke Aachen pada Agustus 1955 dengan semangat yang luar biasa tinggi. Di tahun yang sama,aku menyaksikan Bung Karno berpidato pada saat kunjungan di Bonn. Dalam pidatonya,berharap mahasiswa yang sedang berkuliah di Jerman bisa lulus dan pulang untuk membuat pesawat dan kapal ketika mereka pulang. Selain itu,beliau juga mengharapkan mahasiswa Indonesia membentuk PPI(Perhimpunan Pelajar Indonesia).

   

        Untuk menghemat uang saat kuliah disini,aku memilihi tempat penginapan yang murah di pinggir kota Aachen. Aku tiinggal bersama keluarga Neuefeiend di Frankenberg Str 16.,Aachen,dan mandi di pemandian umum.

        Hingga tiba waktu ujian Studienkolleg,aku mengerjakan ujian itu dengan tenang dan mengandalkan otak pintarku. Dengan percaya diri aku mengumpulkan lembar ujian paling awal sebelum mahasiswa yang lain.

        Beberapa hari kemudian,hasil ujian pun muncul. Aku dan teman-teman bergegas melihat hasilnya di papan kampus. Namun,saat mencari-cari namaku,aku tidak melihat ada namaku dalam daftar itu. Aku sangat tertekan,perjuangan  dan impianku saat ini kandas. Saat itu,ada seorang pria jerman melihatku.

“Kamu kenapa?”tanyanya.

“Aku gagal ujian,”jawabku pasrah.

“Memangnya,siapa kamu?”kata lelaki jerman itu penasaran

        Kemudian aku memberitahukan nama lengkapku kepada pria itu. Ketika aku bersiap-siap hendak pergi,ternyata pria itu berinisiatif mencarikan namaku. Dengan wajah pasrah dan putus asa aku meninggalkan ruangan tersebut. Tapi,tiba-tiba ia mengejarku dan mengucapkan selamat kepadaku. Dalam hatiku bertanya apakah ini sebuah hinaan atau bukan. Tapi kemudian ia menarikku kembali ke daftar peserta yang lolos itu. Ia menunjukkan namaku terpampang disana. Aku senang bukan main,pria itu juga menyalamiku dengan kuat hingga aku kesakitan.

     

        Sudah 3 bulan berlalu,aku sangat menikmati masa-masa kuliahku di Jerman. Pembelajaran di kampus juga sangat efektif. Dan hari ini merupakan musim dingin. Hari ini pertama kali aku melihat salju turun.  Aku selalu memanfaatkan waktuku sebaik mungkin di Jerman. Disaat teman yang lain sedang mengatur jadwal untuk bermain ski,aku berusaha mengatur jadwal untuk terus berlatih,

        Ditengah kesibukan kuliah,aku mengikuti keanggotaan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Teman-temanku yang mengajakku bergabung dengan mereka. Dalam keanggotaan PPI tersebut,aku ditunjuk sebagai ketua PPI Aachen. Aku berusaha dengan keras dan berjanji kepada teman-temanku ntuk membuat PPI Aachen menjadi PPI yang dijadikan panutan dan contoh bagi PPI lain.

        Ditengah semakin memanasnya kondisi politik di Indonesia pada tahun 1955. Dimana terjadinya perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta. PPI Jerman pun terkena dampaknya,yang juga terjadi perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan munculnya dukungan dari Bung Karno dan Bung Hatta. Aku yang menjabat sebagai Ketua PPI Aachen tetap berpegang teguh bahwa PPI bersifat netral dan tidak ikut campur dalam kegiatan politik negara.

        Namun,keputusanku ini tidak sepenuhnya disenangi olah seluruh anggota PPI. Terutama dari golongan Laskar Pelajar. Mereka berpendapat bahwa Bung Karno memberikan kesempatan emas bagi PPI untuk mengemukakan rancangan dan rencana mereka secara langsung.

        Ketidakterimaan dari pihak Laskar Pelajar membuat mereka terus memaksaku. Mereka memaksaku untuk menandatangani rancangan pembentukan front yang seolah-olah mendukung Bung Karno. Tapi,karena sifatku yang keras kepala,aku tidak menanggapinya dan menolak tawaran Bung Karno yang menawarkan diri sebagai promotor dan inspirator. Sikapku ini juga membuat Duta Besar Indonesia Untuk Jerman marah. Ia memanggilku dan menegurku. Seperti biasa aku kembali berargumen dengannya.

        Namun setelah terus menerus beradu argument akhirnya Pak Zairin yang menjabat sebagai Duta Besar Indonesia akhirnya terdiam dan mendekatiku. Pak Zairin berkata bahwa beliau sangat bangga denganku.

        Dengan berakhirnya perdebatan didalam keanggotaan PPI kemudian kami melanjutkan rancangan yang kami buat.dan merencanakan pelaksanaan seminar yang dihadiri PPI seluruh Jerman. Seminar ini diberi nama “Seminar Pembangunan”.

        Hinga tiba hari seminar,sayangnya aku tidak bisa mengikuti seminar tersebut dikarenakan penyakit paru-paruku kambuh dan aku harus dirawat. Tapi dengan segera,aku langsung menunjuk perwakilan-perwakilan yang dapat mewakiliku dalam seminar pembangunanku.

        Akhirnya seminar Pembangunan itupun selesai. Teman-temanku sangat senang dan merayakan momen itu. Dibalik itu,aku yang terbaring di rumah sakit masih berjuang melawan penyakit TBC Tulang yang dideritaku. Di tengah penyelenggaraan Seminar Pembangunan itu mataku mulai kabur dan melihat cahay putih. Kemudia aku dibawa ke kamar jenazah.

        Beberapa lama kemudian,aku terbangun di ruang jenazah. Dengan rasa sakit yang tak kunjung reda,aku menulis sebuah sumpah yang berisi:

Sumpahku!

Terlentang!!!                           

Djatuh! Perih! Kesal!

Ibu Pertiwi

Engkau Pegangan Dalam Perdjalanan

Djanji pusaka dan sakti

Tumpah darahku

Makmur dan sutji.

Hantjur badan

Tetap berjalan

Djiwa besar dan Sutjii

Membawa aku padamu!!

 

          Ungkap diriku saat setengah sadar. Dikarenakan jadwal yang padat, aku sampai lupa menjaga  kekebalan tubuhku yang memiliki penyakit bawaan. Dibalik itu semua,teman-temanku tetap membantuku untuk menyusun rencana pembangunan 2 yang kami rancang sesuai tujuan kami.

        Di lain waktu,Ahmadi yang kini telah menjabat sebagai menteri transmigrasi,koperasi dan pembangunan Masyarakat,Desa,hadir kembali sebagai utusan pemerintah dalam konferensi PPI ke-4. Konferensi itu menjadi kontroversial dikarenakan Agus Nasution seorang mahasiswa Psikologi membacakan bahwa manifesto politik merupakan bagian dari konsep dan strategi PKI yang ingin menggambil kekuasaan.

        Mendengar hal ini,Bung Karno marah dan memanggil Duta Besar dan D.I.Pandjaitan untuk menegur mahasiswa PPI Jerman agar tidak dianggap anti Nasakom,anti Manipol,dan anti Bung Karno.

        Aku yang saat itu tidak peduli dengan hal itu dan sedang meyelesaikan proyek kuliahku. Ternyata terkena dampaknya juga. Proyek perhitunganku disita oleh Dapartemen Pertahanan Indonesia karena dianggap sebagai musuh NATO. Prof. ebner sebagai professor pendampingku akhirnya menjelaskan yang terjadi. Aku yang sudah susah payah mengerjakan proyek itu akhirnya hanya terdiam dan bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan. Tapi saat itu Prof. Ebner selalu mendukungku dan menasihatiku untuk terus mencoba. Sebagai sarannya,ia akan mencarikan proyek baru untukku agar dapat menyelesaikan kuliah.

        Dari cerita sejarah tersebut kita dapat memaknai perjuangan Prof. B. J. Habibie bahwa “Jangan pernah menyerah,walaupun selalu ada rintangan yang datang menghadang kita”

Sumber referensi: Buku Biografi "Rudy:Kisah Masa Muda Sang Visioner" karya Gina S. Noer


Demikian tugas ini saya selesaikan dengan penuh tanggung jawab,kurang lebihnya mohon maaf. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sebagai bahan pertimbangan untuk pembuatan tugas berikutnya. sekian dari saya dan terima kasih sudah membaca.

         

Kerangka Novel "Melawan Jebakan Si Pelik"

  Tugas Menyusun Kerangka Novel Nama :Eka Pradipa Sudrajat No Absen:06 Kelas:XII-MIPA-10 Kerangka Novel " Melawan Jebakan Si Pelik...